Keajaiban itu Bernama Bodo/Glimt

blog_10

LAINNYA

Feb 25 2026, 14.09

Pertandingan sepak bola kerap memunculkan kejutan. Klub yang dipandang sebelah mata bisa mengalahkan klub raksasa. Kisah sukses klub-klub underdog ini ibarat dongeng. Sesuatu yang jarang terjadi di dunia nyata.

Bodo/Glimt membuat keajaiban di babak playoff Liga Champions. Menghadapi finalis tahun lalu Inter Milan, klub dari Norwegia itu mampu menang agregat 5-2. Untuk kali pertama di sepanjang sejarah, ada klub dari Norwegia yang bisa tampil di babak 16 besar Liga Champions. 

Bodo merupakan sebuah kota kecil di bagian utara Norwegia dengan jumlah penduduk sekitar 53 ribu orang. Jumlah itu cukup untuk mengisi sebuah stadion sepak bola standar di Eropa. Satu dekade lalu, Bodo/Glimt masih bermain di kompetisi tier 2 di Norwegia. Ketika itu, Rosenborg masih menjadi penguasa liga.

Tahun lalu, Bodo/Glimt yang 70 persen skuatnya merupakan warga negara Norwegia melaju ke semifinal Liga Eropa setelah mengandaskan Lazio lewat adu penalti. Mimpi mereka menuju final dihentikan oleh Tottenham Hotspur. Meski gagal ke partai puncak, Bodo/Glimt sukses menorehkan sejarah sebagai klub Norwegia pertama yang bisa tampil di babak semifinal kompetisi Eropa.

Jangan bandingkan stadion di Bodo dengan stadion lain di Eropa. Stadion yang menjadi kandang Bodo/Glimt yang berbasis sekitar 70 mil di dalam Lingkar Arktik ini hanya bisa menampung 8.270 penonton. Tidak ada biliuner yang mendanai klub dengan jersey kuning ini. Mereka tetap hidup atas dukungan fans yang fanatik.

“Kami dulu memiliki stadion yang hampir kosong beberapa tahun yang lalu, dan sekarang kami berkompetisi di Liga Champions UEFA. Rasanya seperti mimpi,” kata Raymond Limstrand Jakobsen, seorang pendukung setia Bodo/Glimt.

Kesuksesan Bodo/Glimt menembus babak 16 besar Liga Champions telah menggemparkan Norwegia Utara. Bendera kuning berkibar dengan bangga di angin utara di seluruh Bodø, bahkan di luar stasiun pemadam kebakaran lokal. Dan orang-orang Norwegia Utara? Mereka tak bisa lebih bangga lagi.

“Kami berjalan sedikit lebih tegak. Kami tersenyum lebih sering. Dan pada saat yang sama, kami tak bisa menahan diri untuk tertawa dalam hati dan berpikir: ‘Apa yang sedang terjadi?’,” kata Jakobsen.

“Ada gelombang positif di kota ini, dan banyak passion. Dan ya, Liga Champions lebih sulit dan lebih menantang daripada liga nasional, tapi itulah juga sifat orang-orang Norwegia Utara. Kami diperkuat oleh cuaca,” kata Kjetil Linchausen, Direktur Utama Sportsbaren – sebuah pub sepak bola populer dan tempat pertemuan di kota.

Saat hari pertandingan di Bodo, semua orang, dari anak-anak kecil hingga nenek-kakek, mengenakan warna kuning. Jangan kaget jika orang di depan Anda di supermarket mengenakan seragam lengkap Bodo/Glimt, bahkan berjam-jam sebelum pertandingan. Dan pesta pra-pertandingan bukan hanya untuk orang dewasa – beberapa taman kanak-kanak dan sekolah merayakan hari pertandingan dengan cara mereka sendiri: menyanyikan lagu-lagu Bodo/Glimt dengan suara keras.

Bodo/Glimt meraih sukses dengan susah payah. Pada 2010, klub tersebut berada di ambang kebangkrutan, para pemain kadang-kadang tidak menerima gaji selama berbulan-bulan, dan warga Norwegia Utara terpaksa berkreasi untuk menyelamatkan tim kesayangan mereka.  

Warga setempat berkeliling kota untuk mengumpulkan botol kosong demi uang deposit, nelayan mendonasikan ikan kepada klub untuk dijual demi keuntungan, tim handball lokal mendonasikan pendapatan tiketnya kepada Bodo/Glimt, dan kampanye penggalangan dana besar-besaran diumumkan di radio lokal.

Dan sebagai figur utama dalam penggalangan dana tersebut adalah Runar Berg, mantan pemain Bodo/Glimt dan paman dari gelandang bertahan Glimt, Patrick Berg.  Keluarga Berg telah memainkan peran besar dalam klub selama delapan dekade. Harald “Dutte” Berg debut untuk Bodø/Glimt pada tahun 1958. Anak-anaknya, Runar dan Orjan, mengikuti jejaknya pada 1980-an, Arild pada 1993, dan pemain saat ini Patrick Berg pada 2014.

Mereka bisa selamat dari ancaman kebangkrutan tanpa pemain bintang atau kekuatan finansial. Pada 2025, tim ini menjadi klub terkaya di liga Norwegia, berkat fokusnya pada pengembangan pemain lokal dan kesuksesan olahraga.

Namun, menjadi klub kaya di Norwegia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan lawan-lawan Glimt. Sebagai perbandingan, klub ini memiliki pendapatan sebesar 29 juta euro pada tahun 2024 sementara Manchester City memiliki 769 juta euro.

Lalu apa yang berubah? Menurut warga setempat, kesuksesan ini berkat kombinasi talenta lokal, keberanian, dan pelatih unik asal Bergen.

“Kami berani berinvestasi pada pemain muda lokal, yang kini telah tumbuh menjadi tulang punggung tim. Sangat unik bermain dengan tim yang hampir seluruhnya terdiri dari pemain Norwegia, banyak di antaranya berasal dari Bodø dan daerah lain di Norwegia Utara,” kata pendukung dan podcaster sepak bola Frank Tjærandsen Amundsen.

Secara total, Bodø/Glimt kini memiliki 19 pemain Norwegia dari total 27 pemain di timnya. Kini, Bodo/Glimt mencatatkan sejarah sebagai tim pertama di luar lima liga besar Eropa yang memenangkan empat pertandingan berturut-turut dalam kampanye Piala Eropa/Liga Champions melawan lawan dari liga-liga tersebut (Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Prancis) sejak Ajax pada musim 1971-72, yang kemudian memenangkan Piala Eropa pada musim tersebut.

Pemain Bodo/Glimt Jens Petter Hauge telah mencetak enam gol di Liga Champions musim ini; rekor terbanyak yang pernah dicetak oleh pemain Norwegia untuk klub Norwegia dalam satu edisi Piala Eropa/Liga Champions.

Usai mengandaskan Inter Milan di babak playoff, Bodo/Glimt kemungkinan besar akan menghadapi Manchester City atau Sporting Lisbon.

“Ini adalah momen bersejarah bagi Bodo dan saya pikir juga bagi sepak bola Norwegia,” kata pelatih Kjetil Knutsen.

Sepak bola tidak akan pernah bosan menghadirkan kejutan demi kejutan. Keberhasilan Bodo/Glimt mengalahkan Manchester City, Atletco Madrid dan Inter Milan di Liga Champions menjadi bukti bahwa keajaiban itu kadang menjadi kenyataan. Musim ini, keajaiban itu bernama Bodo/Glimt.

Penulis : Doddy Rosadi

Editor : Doddy Rosadi


RELATED ARTICLES AND VIDEOS

Generic placeholder image

Rayakan Dua Dekade sebagai Pionir Teknologi Gaming Dunia, ASUS ROG Luncurkan Perangkat Baru

TEKNOLOGI DIGITAL

Feb 25 2026, 13.27

Momen perayaan 20 tahun ini menjadi saksi hadirnya standar baru dalam dunia komputasi.


Generic placeholder image

Petenis Putri Indonesia Janice Tjen Tembus Peringkat 40 Besar Dunia

LAINNYA

Feb 25 2026, 10.42

Janice menjadi petenis putri Indonesia kedua yang bisa menembus peringkat 40 besar dunia setelah Yayuk Basuki.


Generic placeholder image

“Opalite” Lagu ke-14 Taylor Swift yang Jadi No 1 di Billboard Hot 100

GAYA HIDUP

Feb 25 2026, 09.52

“Opalite” adalah lagu kedua dari album The Life of a Showgirl, yang menduduki posisi teratas di Hot 100.


Generic placeholder image

Netflix Tayangkan Duel Mayweather vs Pacquiao

LAINNYA

Feb 24 2026, 12.00

Pertandingan ulang antara Mayweather dan Pacquiao terjadi lebih dari satu dekade setelah mereka terakhir bertarung pada 2015.


Generic placeholder image

Jelang Oscar, One Battle After Another Jadi Film Terbaik di Vancouver Film Critics Circle

GAYA HIDUP

Feb 24 2026, 11.46

One Battle After Another yang merupakan karya sutradara Paul Thomas Anderson sebelumnya menerima tujuh nominasi dari para kritikus Vancouver.


Copyright Katadata 2022