Stelar, Tas Bambu dari Bali yang Dijual di Toko Barang Mewah di Luar Negeri
EKONOMI & BISNIS
Jan 08 2024, 08.23
Tas bambu merupakan salah satu kerajinan Bali yang sering dibeli oleh wisatawan. Namun, tidak semua tas bambu dibuat sama. Hal ini menarik perhatian Lorna Watson, perempuan asal Skotlandia yang memiliki latar belakang di bidang perhiasan dan lebih dari 25 tahun pengalaman di industri barang mewah.
Awalnya, Watson ingin memulai bisnis perhiasan di Pulau Dewata. Namun, tas bambu menarik perhatiannya. Dia kemudian berinisiatif membuat tas bambu sendiri yang diberi nama Stelar.
Nama Stelar berasal dari bahasa Yunani 'stele', yang berarti pilar atau fondasi, dan bahasa Latin 'stellar', yang berarti yang terbaik di bidangnya. Jadi, Stelar adalah gabungan dari keduanya, yang berarti menciptakan pilar bagi para pengrajin yang unggul dalam bidang keahlian mereka.
Pada 2016, Watson diperkenalkan dengan sebuah keluarga di Bali Timur yang merupakan generasi keempat dari penganyam keranjang yang menggunakan rumput atta - serat tumbuhan alami asli Bali yang berkelanjutan, tahan air, dan dapat bertahan hingga 50 tahun dengan perawatan yang tepat.
"Ketika mereka menceritakan kisah mereka dan memperkenalkan saya pada teknik dan material mereka yang sangat berharga dan tahan lama. Saya menyadari bahwa hal ini sebenarnya sangat mirip dengan bekerja dengan material logam [dalam perhiasan," ujar Watson kepada Channel News Asia
Ia kemudian memutuskan untuk mendesain dan memesan koleksi kapsul yang terdiri dari tiga tas dari keluarga yang dikepalai oleh pengrajin Wayan, yang saat itu tinggal di pengungsian akibat letusan Gunung Agung.
"Ini adalah cara bagi komunitas Wayan untuk mengisi waktu dan menghasilkan uang dari keterampilan tradisional mereka selama berada di pusat pengungsian," ujar Watson, yang akhirnya membawa koleksi kapsul tersebut ke London dan mengujinya selama musim panas.
"Hasilnya luar biasa dan terjual habis dalam waktu satu bulan pertama, dan begitulah awal mula semuanya,” ungkap Watson.
Saat ini, Stelar bekerja sama dengan 160 pengrajin yang berada di komunitas masing-masing di Bali, Lombok, dan Jawa. Koleksi Stelar saat ini 60 persen terbuat dari serat tanaman lokal dan 40 persen dari kulit lokal.
"Kami menggunakan sekitar lima jenis serat tumbuhan alami dan kulit nappa yang semuanya berasal dari Indonesia. Tas bambu kami dibuat dengan menggunakan teknik dua lapis yang menggunakan keterampilan kuno yang berasal dari Lombok," ujar Watson.
"Semua kulit non-hewani dilapisi dengan mikroplastik dan tidak dapat terurai secara alami, sedangkan bahan yang kami gunakan sebagian besar dapat terurai secara alami dan lebih unggul daripada bahan lain yang ada di industri ini," jelas Watson.
Saat ini, Stelar dijual secara online dan tersedia di peritel mewah termasuk Selfridges di Inggris dan Lane Crawford di Hong Kong. Merek ini juga telah bekerja sama dengan hotel-hotel mewah yang berwawasan lingkungan seperti The Legian Seminyak di Bali dan Cap Koroso di Sumba untuk menciptakan kolaborasi yang unik dan khusus.
Seiring dengan terus bertambahnya produk baru dan juga pengrajin, Watson tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip perusahaannya yaitu komunitas, keahlian, transparansi, dan regenerasi.
Sekarang, berkat Stelar, para pengrajin ini dapat terus melakukan apa yang terbaik untuk generasi yang akan datang.