Festival Ramadan di Cina, Mulai dari Bukber Hingga Salat Tarawih Berjamaah
LAINNYA
Mar 10 2026, 16.37
Langit malam masih dihiasi cahaya kembang api dan nuansa merah khas perayaan Imlek. Jalan-jalan dipenuhi dekorasi lampion, pusat perbelanjaan ramai oleh keluarga yang merayakan tahun baru, dan atmosfer suka cita terasa begitu kuat.
Di tengah kemeriahan itu, umat Muslim Indonesia di Cina menyambut datangnya bulan suci dengan kekhusyukan dan harapan. Menjalani Ramadan di negeri dengan mayoritas non-Muslim tentu memiliki tantangan tersendiri.
Cuaca yang berbeda, durasi puasa yang tidak selalu sama dengan Indonesia, serta kesibukan studi ataupun pekerjaan membuat suasana Ramadhan terasa unik. Namun justru dalam kondisi tersebut, kebersamaan antar diaspora semakin terasa hangat.
Tahun ini, diaspora Muslim Indonesia kembali menghadirkan Pesantren Ramadan Cina 2026, sebuah program kolaboratif yang diinisiasi oleh Lintas Komunitas Muslim Indonesia Tiongkok (LKMIT) bersama KBRI Beijing dan berbagai organisasi Muslim Indonesia di Cina.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Cina,. Irene yang mengapresiasi semangat kebersamaan dan konsistensi ibadah yang terus dijaga oleh diaspora.
Program ini dilaksanakan secara luring dan daring agar dapat menjangkau mahasiswa serta masyarakat Indonesia, baik yang berada di Cina maupun yang ingin ikut terhubung dari Indonesia. Seluruh rangkaian kegiatan diselenggarakan secara gratis, sehingga siapa pun dapat berpartisipasi tanpa hambatan biaya.
Setiap sore, suasana kebersamaan terasa dalam buka puasa bersama yang rutin diadakan. Menu berbuka berbeda setiap hari, menghadirkan cita rasa khas berbagai daerah di Indonesia. Sajian tersebut bukan sekadar makanan, melainkan pengobat rindu akan tanah air dan simbol bahwa identitas tetap terjaga meski jauh dari rumah.
Selepas berbuka, jamaah melaksanakan shalat tarawih berjamaah dan mendengarkan kultum yang diisi secara bergiliran oleh mahasiswa maupun perwakilan komunitas. Momentum ini menjadi ruang belajar disiplin ibadah,belajar menyampaikan pesan kebaikan, sekaligus melatih tanggung jawab bersama.
Kegiatan daring pun tak kalah hidup. Setiap hari terdapat kajian bersanad dan kajian tematik yang relevan dengan kehidupan Muslim diaspora. Peserta juga mengisi mutabaah yaumiah berupa checklist ibadah harian untuk menjaga konsistensi. Setiap pekan, para fasilitator memberikan motivasi agar semangat ibadah tetap terjaga. Bahkan tersedia kelas Bahasa Mandarin sebagai bentuk penguatan kapasitas diri selama menjalani kehidupan di Cina.
Penulis: Mochamad Iqbal Agustiandoro (Putra School of Government UIBE Beijing)
Artikel ini merupakan kerja sama Katadata dengan PPI Dunia