Mencari pekerjaan kini tidak lagi sebatas mengirim lamaran lewat portal seperti LinkedIn. Di Amerika Serikat, tren unik mulai muncul: pencari kerja muda memanfaatkan aplikasi kencan seperti Tinder, Bumble, Hinge, hingga Facebook Dating sebagai jalur alternatif untuk membangun jaringan profesional dan membuka peluang karir.
Fenomena ini muncul dari frustasi terhadap sistem rekrutmen tradisional yang semakin padat. Situs profesional sering kewalahan menampung jutaan lamaran, sementara penggunaan AI untuk menyaring resume membuat banyak peluang hilang sebelum kandidat terlihat. Dalam kondisi seperti ini, aplikasi kencan menjadi platform tidak konvensional namun efektif untuk berjejaring.
Dikutip dari laman NYPost, survei ResumeBuilder.com terhadap lebih dari 2.200 pengguna aplikasi kencan menunjukkan bahwa sekitar sepertiga menilai calon pasangan berdasarkan potensi karier. Dari kelompok ini, hampir setengah berhasil mendapatkan bimbingan atau mentorship, hampir 40% mendapat wawancara kerja, dan sepertiganya memperoleh rekomendasi, lead pekerjaan, bahkan tawaran kerja. Data ini menegaskan bahwa strategi yang terdengar aneh ini ternyata efektif.
Startup Ditto AI, yang fokus pada aplikasi kencan untuk mahasiswa, mencatat tingginya aktivitas pengguna yang mencari peluang karir dibanding kencan romantis. Banyak mahasiswa dan pekerja muda menelusuri profil orang-orang yang bekerja di perusahaan atau posisi tertentu, berharap mendapatkan saran atau jalur menuju pekerjaan impian mereka.
Kondisi dunia kerja di AS turut mendorong tren ini. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,6% pada November 2025, tertinggi sejak September 2021. Untuk lulusan sarjana, angka pengangguran meningkat dari 2,5% menjadi 2,9%. Pertumbuhan upah yang melambat dan meningkatnya jumlah pekerja yang menganggur lebih dari enam bulan juga mendorong pencari kerja untuk mencari strategi baru yang lebih kreatif.
Tren ini menunjukkan perubahan pola networking di era digital. “Swipe Right” kini tidak hanya soal kencan, tetapi juga peluang karir. Kreativitas, keberanian, dan kemampuan memanfaatkan platform digital yang tidak konvensional menjadi kunci bagi mereka yang ingin menembus dunia kerja yang kompetitif. Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana generasi muda menyesuaikan diri dengan dunia kerja modern, tidak hanya menunggu kesempatan, tetapi juga menciptakan jalur sendiri bahkan di tempat yang tak terduga.