Lima Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengganggu Kesehatan
GAYA HIDUP
Jan 03 2026, 09.45
Banyak keluhan kesehatan yang terdengar sederhana kini semakin sering muncul di ruang praktik dokter. Pasien datang dengan cerita yang mirip sulit tidur meski tubuh lelah, perut terasa tidak nyaman tanpa sebab jelas, berat badan bertambah dalam waktu yang singkat, atau rasa letih yang berlebihan. Tidak selalu ada diagnosis besar, tetapi ada pola yang berulang.
Dokter dari berbagai bidang sepakat bahwa ancaman kesehatan terbesar saat ini justru datang dari kebiasaan yang dianggap “normal” seperti menatap layar hingga larut malam, duduk berjam-jam, makan tak teratur, hingga ketergantungan pada makanan instan. Jika berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, kebiasaan ini dapat melemahkan sistem metabolisme, mengganggu kualitas tidur, dan meningkatkan risiko penyakit kronis.
Dilansir dari Indian Times, berikut lima kebiasaan yang paling sering dikeluhkan dokter sepanjang 2025, serta alasan mengapa kebiasaan ini perlu segera diwaspadai.
Doom - scrolling atau Scroll Tanpa Henti Sebelum Tidur
Menggunakan ponsel atau perangkat elektronik menjelang tidur telah menjadi rutinitas banyak orang. Seorang konsultan bedah dari Cytecare Hospitals menjelaskan bahwa paparan cahaya biru dari layar mengirim sinyal keliru ke otak seolah hari belum berakhir. Akibatnya, pelepasan melatonin—hormon yang mengatur waktu tidur sekaligus berpengaruh pada pencernaan—menjadi tertunda.
Tak hanya membuat sulit terlelap, kebiasaan doom scrolling juga berdampak pada keseimbangan emosi dan sistem pencernaan. Dalam jangka panjang, tidur yang terus terganggu dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan, kelelahan kronis, gangguan fokus, hingga masalah kesehatan usus.
Makan Malam Terlalu Larut
Makan larut malam bukan sekadar soal jam biologis, tetapi juga menyangkut efisiensi metabolisme. Ahli gizi dan gastroenterolog menyebutkan bahwa pada malam hari, kemampuan tubuh mencerna makanan dan mengelola gula darah secara alami menurun.
Ketika makanan berat dikonsumsi mendekati waktu tidur, sistem pencernaan dipaksa bekerja saat tubuh seharusnya beristirahat. Kondisi ini dapat memicu gangguan lambung, refluks asam, serta meningkatkan kemungkinan kelebihan kalori disimpan sebagai lemak. Dokter mencatat, pola makan larut malam yang dilakukan secara konsisten berkaitan dengan kenaikan berat badan, resistensi insulin, dan kualitas tidur yang memburuk.
Terlalu Lama Duduk dan Minim Gerak
Kebiasaan duduk terlalu lama kini menjadi bagian dari keseharian banyak orang, baik di kantor, kendaraan, maupun di rumah. Seorang dokter spesialis jantung dari KIMSHEALTH Trivandrum menjelaskan bahwa metabolisme tubuh melambat ketika tubuh berada dalam posisi duduk terlalu lama dibandingkan saat berdiri atau bergerak.
Kondisi ini membuat tubuh lebih rentan mengalami penumpukan lemak di pembuluh darah serta peningkatan berat badan. Dalam jangka panjang, gaya hidup sedentari juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan gangguan metabolik.
Pola Tidur yang Tidak Teratur
Kurang tidur memang bermasalah, tetapi tidur dengan jam yang terus berubah-ubah juga tak kalah berisiko. Tubuh manusia bekerja berdasarkan ritme sirkadian, yakni jam biologis internal yang mengatur kapan seseorang seharusnya tidur dan bangun.
Tidur larut di hari kerja lalu “membalasnya” dengan tidur berlebihan di akhir pekan justru membuat tubuh kesulitan menyesuaikan diri. Dampaknya meliputi penurunan konsentrasi, emosi yang tidak stabil, refleks melambat, hingga melemahnya daya tahan tubuh.
Ahli saraf Dr. Khumar, melalui unggahannya di platform X, menyarankan agar durasi dan waktu tidur dijaga sesuai usia. Bayi membutuhkan waktu tidur sekitar 12–16 jam per hari, remaja 8–10 jam, sementara orang dewasa idealnya tidur selama 7–9 jam.
Ketergantungan pada Makanan Siap Saji
Kemudahan akses makanan instan secara perlahan menggeser pola makan masyarakat. Makanan ultra-proses dan siap saji tak lagi menjadi pengecualian, melainkan bagian dari konsumsi harian.
Dr. Kumar, dokter spesialis jantung dari PSRI Hospital, mengingatkan bahwa pola makan seperti ini berpengaruh besar pada kesehatan usus, yang kini diketahui berperan penting dalam sistem imun dan proses peradangan. Ketidakseimbangan bakteri usus tak hanya berdampak pada pencernaan, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan jantung dan metabolisme. Sebaliknya, asupan serat dari makanan segar dan fermentasi dinilai jauh lebih mendukung fungsi tubuh dalam jangka panjang.