5 Negara Teraman untuk Bertahan Hidup Apabila Terjadi Perang Dunia III, Indonesia Masuk Daftar
GAYA HIDUP
Mar 03 2026, 14.07
Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan utama setelah serangkaian serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu tindakan balasan dari Iran di beberapa wilayah Timur Tengah. Eskalasi multi-regional ini telah menghidupkan kembali pertanyaan klasik yang kini terasa semakin relevan: jika Perang Dunia III meletus, negara mana yang relatif paling aman?
Beberapa negara sering disebut-sebut karena kombinasi lokasi geografis yang terpencil, netralitas yang telah lama terjaga, tingkat perdamaian yang tinggi, dan ketahanan sumber daya yang kuat. Dikutip dari laman Good News from Southeast Asia, berdasarkan Indeks Perdamaian Global (GPI) 2025, yang mengevaluasi keamanan domestik, intensitas konflik, dan tingkat militerisasi, tempat-tempat berikut dianggap memiliki kemungkinan lebih besar untuk terhindar dari dampak langsung konflik global.
1. Antarktika
Antarktika terletak di titik paling selatan planet ini, jauh dari pusat-pusat kekuatan militer utama dunia. Jarak yang sangat jauh ini membuatnya sangat tidak mungkin menjadi target strategis dalam perang konvensional maupun nuklir. Secara teori, wilayahnya yang luas dan tertutup es—mencakup jutaan kilometer persegi—menawarkan ruang fisik yang luas untuk perlindungan.
Namun, keamanan geografis tidak sama dengan kelayakan huni. Suhu ekstrem dan kondisi alam yang tidak ramah membuat bertahan hidup dalam jangka panjang di benua ini sangat sulit.
2. Islandia
Islandia menempati peringkat pertama dalam Indeks Perdamaian Global (GPI) 2025. Negara ini secara konsisten dianggap sebagai salah satu negara paling damai di dunia dan belum pernah terlibat dalam perang besar-besaran atau invasi asing.
Terletak secara geografis terisolasi di Samudra Atlantik Utara, Islandia memiliki keunggulan strategis. Negara ini tidak memiliki angkatan bersenjata tetap, namun merupakan anggota NATO dan berada di bawah klausul pertahanan kolektif Pasal 5.
Meskipun demikian, Islandia tidak mungkin menjadi target utama karena jejak militernya yang minimal. Radiasi nuklir dari konflik nuklir di daratan Eropa diperkirakan hanya akan mencapai pulau tersebut dalam konsentrasi terbatas.
3. Indonesia
Sejak merdeka, Indonesia telah memegang teguh prinsip kebijakan luar negeri yang “bebas dan aktif”. Doktrin ini menekankan kemandirian strategis dalam pengambilan keputusan sekaligus komitmen terhadap perdamaian global.
Akibatnya, Indonesia cenderung menghindari aliansi langsung dengan blok militer besar—faktor yang, secara teori, mengurangi risiko menjadi sasaran langsung dalam konflik global berskala besar.
4. Selandia Baru
Selandia Baru menempati peringkat ketiga dalam Indeks Keterbukaan Global (GPI) dan diakui sebagai salah satu negara yang paling terpencil secara geografis di dunia, terletak di Samudra Pasifik bagian barat daya. Jaraknya dari pusat-pusat ketegangan geopolitik Eurasia berfungsi sebagai lapisan perlindungan alami. Medan pegunungan negara ini juga memberikan keunggulan pertahanan tambahan.
Meskipun pemerintah telah memberikan dukungan finansial kepada Ukraina dan mendukung tindakan hukum terhadap Rusia di Mahkamah Internasional, kemungkinan serangan langsung terhadap wilayah Selandia Baru dianggap sangat rendah.
5. Swiss
Swiss telah lama dianggap sebagai simbol netralitas Eropa. Negara ini tidak memihak secara militer dalam konflik Rusia-Ukraina dan bahkan membatasi pengiriman senjata buatan Swiss ke zona perang aktif.
Selain sikap politiknya, Swiss dilengkapi dengan infrastruktur pertahanan sipil yang sangat berkembang, termasuk jaringan luas tempat perlindungan radiasi nuklir. Faktor-faktor ini membuat Swiss tidak mungkin dianggap sebagai musuh langsung oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik global besar.