Smart Bricks, Balok Lego Interaktif yang Mampu Merespons Gerakan dan Suara

blog_10

TEKNOLOGI DIGITAL

Jan 07 2026, 16.59

Produsen mainan asal Denmark, Lego memperkenalkan Smart Bricks, balok Lego berteknologi tinggi yang mampu merespons gerakan, suara, hingga interaksi fisik pengguna. Inovasi ini diumumkan pada ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas dan diklaim sebagai pengembangan paling signifikan perusahaan dalam hampir lima dekade terakhir. Produk ini akan mulai dipasarkan pada Maret 2026 melalui peluncuran perdana set bertema Star Wars.
 
Dilansir dari laman BBC, Smart Bricks menjadi bagian dari sistem baru bernama Smart Play, yang mengintegrasikan sensor, chip silikon, lampu, modul suara, serta akselerometer ke dalam balok Lego berukuran klasik. Teknologi tersebut membuat Lego tidak lagi sekadar balok pasif yang disusun, melainkan platform interaktif yang dapat merespons cara anak memainkannya. Produk ini juga terhubung dengan Smart Minifigures dan Smart Tags Tiles, yang memungkinkan terciptanya respons digital saat ketiganya berinteraksi dalam permainan.
 
Transformasi ini menunjukkan keseriusan Lego mengubah model bisnisnya yang selama puluhan tahun bertumpu pada produk fisik. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan telah mempercepat investasi teknologi, mulai dari peluncuran pengalaman augmented reality hingga kolaborasi dengan industri gim bersama Nintendo dan Epic Games. Dalam laporan tahunan 2024, CEO Lego Niels B. Christiansen bahkan menegaskan digital sebagai area strategis perusahaan ke depan, menandai pergeseran Lego menuju ekosistem bermain yang semakin terhubung dengan teknologi.
 
Namun, strategi digitalisasi tersebut tidak sepenuhnya diterima tanpa kritik. Sejumlah pemerhati tumbuh kembang anak menilai Smart Bricks berpotensi menggeser esensi utama Lego sebagai mainan yang mendorong kreativitas. Direktur Eksekutif Fairplay, Josh Golin, menyebut kehadiran fitur teknologi bisa membuat anak semakin bergantung pada stimulus digital, padahal selama ini imajinasi sudah cukup untuk “menghidupkan” Lego tanpa bantuan suara maupun efek tambahan. Kritik ini pada dasarnya berkaitan dengan kecemasan yang lebih luas mengenai bagaimana teknologi mengubah perilaku bermain anak di era digital.
 
Pandangan serupa disampaikan Profesor Andrew Manches dari University of Edinburgh yang mengakui daya tarik utama Lego terletak pada kesederhanaannya. Namun, ia tetap melihat peluang selama digitalisasi dilakukan untuk memperkaya pengalaman bermain, bukan menggantikannya. Di sisi lain, isu keamanan data dan privasi anak juga mulai menjadi perhatian, mengingat semakin banyak mainan pintar yang mengintegrasikan teknologi sensor dan kecerdasan buatan.
 
Lego mengungkapkan Smart Bricks dirancang bukan untuk menggantikan imajinasi anak, melainkan memperluasnya. Kepala Creative Play Lab Lego, Tom Donaldson, menjelaskan respons interaktif yang diberikan Smart Bricks diharapkan dapat memicu rasa ingin tahu dan memperpanjang durasi keterlibatan anak dalam bermain. Perusahaan memastikan pendekatan ini dibangun sebagai platform jangka panjang yang akan terus dikembangkan.
 
Peluncuran Smart Bricks menempatkan Lego pada fase penting dalam perjalanan transformasi digitalnya. Di satu sisi, langkah ini membuka peluang bisnis baru dan memperkuat relevansi perusahaan di tengah generasi konsumen yang tumbuh dengan teknologi. 
 
Namun di sisi lain, Lego dihadapkan pada tantangan menjaga identitas merek yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol kreativitas manual dan imajinasi bebas. Pertanyaan besarnya kini bukan hanya soal kemampuan Smart Bricks menciptakan pengalaman bermain baru, tetapi sejauh mana inovasi ini mampu menjaga nilai fundamental Lego sebagai mainan yang membiarkan anak menjadi pencipta utama dalam dunia bermain mereka.

Penulis : Marsha Ramandha Fatoni

Editor : Doddy Rosadi


RELATED ARTICLES AND VIDEOS

Event Akan Datang

View all events

 Apr 15 2026, 00.00

Related Events

 Mar 08 2022

 Jun 28 2022

 Aug 24 2022

Copyright Katadata 2022