I Was a Stranger, Kisah Pilu Pengungsi Korban Konflik
GAYA HIDUP
Feb 05 2026, 06.55
Konflik, di mana pun terjadi, tidak hanya menimbulkan korban tewas tetapi juga mengubah hidup warga yang tinggal di wilayah itu. Mereka yang tidak terlibat dalam perang harus mengungsi. Keluar dari negara yang dalam keadaan perang tentu bukan hal yang mudah, apalagi jika perang itu terjadi di Suriah.
Pada 2015, kota Aleppo membara. Perang membuat kota itu luluh lantak. Mayoritas warga berupaya untuk keluar dari kota tersebut. Cerita tentang seorang dokter dan putrinya yang ingin mengungsi ke negara lain menjadi awal cerita film I Was a Stranger karya sutradara Brandt Andersen.
Film ini menampilkan lima alur cerita yang berdiri sendiri yang semuanya bertemu di akhir film. Film dimulai di Chicago pada April 2023 dengan adegan kamera crane yang mencolok mendekati Trump Tower. Namun, Andersen membawa penonton ke sebuah rumah sakit di mana Dokter Amira Homsi (Yasmine Al Massri, yang tampil memukau dalam Palestine '36) sedang masuk kerja dan tampaknya terkejut menyadari bahwa itu adalah ulang tahunnya.
Film ini langsung mundur ke tahun 2015, saat Amira berusaha keras menjaga ruang gawat darurat di Aleppo, merawat seorang remaja yang pendarahan dan seorang tentara yang terluka tembak secara bersamaan; yang terakhir mengancamnya dengan senjata untuk menghentikan perawatan musuh. Pada saat yang sama, bom terus menghujani dengan tak henti-hentinya hanya beberapa meter dari sana.
Meskipun demikian, Amira berhasil keluar dari shift kerjanya dengan selamat dan pulang ke rumah untuk perayaan ulang tahun keluarga, tepat sebelum bom menghancurkan langit-langit ruang tamu. Amira dan putrinya Rasha (Massa Daoud) selamat, tetapi anggota keluarga lainnya tidak, dan keduanya menemukan diri mereka di bagasi mobil dalam upaya panik untuk diselundupkan keluar dari zona konflik.
Film kemudian beralih ke sudut pandang Mustafa (Yahya Nagayni), prajurit yang pernah mengatakan kepada Amira di ruang tunggu UGD bahwa merawat musuh membuatnya menjadi musuh.
Ternyata Mustafa adalah putra dari seorang pejuang perlawanan yang terkenal, meskipun bagaimana dia menjadi tentara setia Bashar al-Assad masih belum jelas. Mustafa tampak seperti orang yang tenang dan tak tergoyahkan hingga dia menyaksikan atasannya membuat beberapa keputusan untuk membunuh anak-anak dari jarak dekat, dan dihadapkan pada dilema untuk membantu Amira melarikan diri atau menembak atasannya. Namun, seperti setiap segmen sebelumnya, Andersen memotong adegan sebelum momen krusial.
Selanjutnya adalah Omar Sy, yang memerankan Marwan, seorang penyelundup di Turki yang memanfaatkan para migran yang antusias dengan cara yang tidak terpuji, Marwan juga merawat anaknya yang sakit, Yusuf (Baeyen Hoffman), dengan penuh kasih sayang sambil keduanya membayangkan makan pizza deep dish di Chicago. Adegan terakhir dari segmen ini adalah ketika Marwan ditodong senjata oleh kaki tangannya sendiri.
Segmen berikutnya Andersen akan membawa Anda mengenal seorang Bapak yang ingin membawa istri dan tiga anaknya keluar dari Turki menuju Yunani. Ia rela membayar mahal kepada Marwan agar mimpinya itu terwujud. Sedanngkan segmen terakhir bercerita tentang kapten Stavros Stavros (Constantine Markoulakis) yang lelah berperang berusaha mempertahankan semangat sambil terus-menerus berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin migran.
Selama 1 jam 44 menit, Anda akan menyaksikan bagaimana perjuangan para pengungsi keluar dari peperangan. Bukan itu saja, Andersen akan memperlihatkan kepada penonton pihak-pihak yang diuntungkan dari maraknya pengungsi yang ingin ke luar negeri, seperti Marwan si penyelundup.
Film ini diangkat dari kisah nyata dari para pengungsi di sejumlah negara. Sang sutradara, Andersen telah lama menjadi aktivis yang bersemangat dalam memperjuangkan hak-hak imigran. Ia secara pribadi telah mengirimkan paket bantuan ke Gaza, mengelola kamp pembuatan film untuk orang-orang yang terpaksa mengungsi di seluruh dunia, dan mengoperasikan sebuah yayasan bernama REEL yang membantu imigran menggunakan seni sebagai sarana ekspresi.
Di penghujung film, Andersen akan tampil di layar dan bercerita kenapa dirinya memutuskan untuk membuat film tentang para pengungsi ini. I Was a Stranger akan membuka mata Anda tentang kepedihan dan kepiluan nasib pengungsi di wilayah konflik dan juga tentang pilihan dalam hidup untuk menolong kelompok yang lemah.