Semakin Banyak Anak yang Alergi Sejak Usia Dini, Ini Penyebabnya

blog_10

GAYA HIDUP

Feb 12 2026, 08.21

Alergi makanan pada anak kini tak lagi dianggap sebagai kondisi langka. Studi global terbaru menunjukkan bahwa semakin banyak anak yang mengalami alergi sejak usia dini, bahkan sebelum mereka masuk bangku sekolah. Temuan ini memunculkan pertanyaan besar: apa sebenarnya yang terjadi di awal kelahiran anak hingga risiko alergi bisa terbentuk begitu cepat?
 
Penelitian yang dimuat dalam jurnal JAMA Pediatrics pada ABC News menelaah ratusan riset dari berbagai belahan dunia, melibatkan jutaan anak dengan latar belakang yang berbeda. Hasilnya memperlihatkan bahwa sekitar satu dari dua puluh anak berpotensi mengalami alergi makanan sebelum usia enam tahun. Di Amerika Serikat, angkanya berada di kisaran lima persen, sebuah jumlah yang cukup signifikan untuk sebuah isu kesehatan anak.
 
Namun, alergi makanan ternyata bukan sekadar soal genetik. Para peneliti menegaskan bahwa kondisi ini terbentuk melalui proses yang jauh lebih kompleks. Faktor keturunan memang berperan, tetapi lingkungan tempat anak tumbuh, kondisi kesehatan di masa awal kehidupan, hingga cara tubuh berinteraksi dengan makanan juga ikut mempengaruhi.

Anak-anak yang sejak kecil sudah mengalami gangguan alergi seperti eksim atau asma tercatat memiliki risiko lebih tinggi. Begitu pula dengan penggunaan antibiotik di bulan pertama kehidupan, yang diduga dapat memengaruhi keseimbangan mikrobioma tubuh. Riwayat alergi pada orang tua juga menjadi salah satu faktor penting, begitu juga dengan keterlambatan mengenalkan jenis makanan tertentu saat anak mulai belajar makan.

Dr. Tara Narula, koresponden medis ABC News yang turut mengamati studi ini, menjelaskan bahwa alergi makanan lahir dari kombinasi banyak hal. Menurutnya, genetik, lingkungan, kesehatan kulit, hingga mikrobioma usus saling terhubung dalam membentuk respons tubuh terhadap makanan. Karena itu, alergi tidak bisa dipahami sebagai satu penyebab tunggal.

Beberapa jenis makanan masih menjadi pemicu alergi yang paling sering ditemui pada bayi dan anak-anak. Produk susu, telur, kacang tanah, dan makanan laut tercatat sebagai alergen yang paling umum. Reaksinya pun beragam, mulai dari gejala ringan hingga kondisi yang membutuhkan penanganan medis serius. 

Meski studi ini tidak menyimpulkan hubungan sebab-akibat secara langsung, ada satu benang merah yang terus muncul dalam berbagai penelitian alergi makanan: waktu pengenalan makanan memiliki peran penting. Banyak ahli kini menilai bahwa mengenalkan makanan yang berpotensi memicu alergi sejak bayi mulai mengonsumsi makanan padat, umumnya di usia empat hingga enam bulan, justru dapat membantu menurunkan risiko alergi di kemudian hari, tentu dengan pendekatan yang aman dan terkontrol.

Perlu dicatat, penelitian ini juga memiliki keterbatasan. Sebagian besar data berasal dari negara berpenghasilan tinggi, sehingga belum sepenuhnya mewakili kondisi global. Selain itu, tidak semua studi menggunakan metode uji makanan langsung, yang biasanya dipakai untuk memastikan diagnosis alergi.

Meski begitu, temuan ini memberi gambaran penting bahwa alergi makanan adalah isu kesehatan yang perlu dipahami lintas generasi. Bukan hanya relevan bagi orang tua muda, tetapi juga bagi keluarga, tenaga kesehatan, dan siapa pun yang peduli pada kualitas hidup anak di masa depan. Sebab, apa yang terjadi di tahun-tahun awal kehidupan bisa membawa dampak panjang hingga dewasa.


 

Penulis : Marsha Ramandha Fatoni

Editor : Doddy Rosadi


RELATED ARTICLES AND VIDEOS

Copyright Katadata 2022