Memanfaatkan Kreator Konten untuk Perlihatkan Potensi Desa
TEKNOLOGI DIGITAL
Jul 16 2023, 11.39
Kreator konten semakin banyak bermunculan seiring berkembangnya dunia digital. Konten-konten yang dihasilkan oleh para kreator tersebut juga beragam, dan memiliki ciri khas tersendiri, mulai dari tema traveling hingga tutorial membuat suatu karya.
Profesi kreator konten sendiri sebenarnya bisa dimiliki oleh siapa pun, dari kalangan mana pun, dan dari latar belakang apapun, tak terkecuali anak-anak muda dari desa. Dengan makin berkembangnya teknologi, dunia digital dan media sosial, para anak muda dari desa ini seharusnya mampu menghasilkan konten-konten dengan ciri khas yang unik tentang desa mereka.
Potensi para anak muda desa yang sangat mungkin menjadi kreator konten ini dijelaskan oleh Mujianto, Penggerak Swadaya Masyarakat (PSM) Ahli Muda Kementerian Desa PDTT, dalam Webinar Literasi Digital yang bertajuk Populer Berkat Konten Lokal, yang merupakan hasil kerja sama antara Katadata dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), Jumat (14/7/2023).
Mujianto mengatakan, peran para kreator konten terhadap suatu desa sebenarnya sangat besar, karena mereka bisa menjadi pemberi edukasi melalui video-video yang mereka buat, misalnya tentang pertanian, kebersihan, kesehatan, pengelolaan sampah, dan lain sebagainya.
Selain itu, dengan adanya kreator konten lokal, para anak muda desa juga bisa menggali, serta mengembangkan kreatifitas mereka dengan cara melihat dan meniru apa yang telah dihasilkan si kreator konten dalam video yang mereka buat.
Menurut Mujianto, desa sebenarnya sangat memerlukan peran serta para kreator konten untuk memperkenalkan potensi-potensi desa itu sendiri, baik dari pariwisatanya, maupun produk-produk lokal yang menjadi keunggulannya.
“Desa ini juga sebenarnya perlu tenaga dan pikiran temen-temen si konten kreator, untuk menggali, untuk mendokumentasikan, dan menyebarluaskan potensi-potensi di desa, baik wisatanya, baik produk-produk unggulan lokal yang dihasilkan, bagaimana mengenalkan nanti ke pasar,” tutur Mujianto.
Dengan berkolaborasi antara konten kreator dengan desa, banyak keuntungan yang juga bisa diraup oleh kreator konten tersebut, seperti mendapatkan beragam jenis konten, baik dalam bentuk video, foto, maupun ulasan cerita dari masyarakat desa.
Bersama Mujianto, hadir pula sebagai narasumber, Tombro Widodo, kreator konten yang menilai bahwa suatu kesalahan apabila anak-anak muda zaman sekarang bercita-cita menjadi seorang Content Creator.
Tombro menilai, akan lebih baik jika mengontenkan apa yang sedang dilakukan, daripada hanya menjadi seorang Content Creator. Jika mengontenkan apa yang sedang dilakukan, maka bisa jadi hasilnya lebih bermanfaat, lebih mengedukasi, serta lebih mampu menarik banyak penonton.
“Bikinlah konten yang bermanfaat, yang mengedukasi, itu akan berlaku jangka panjang. Kalau konten yang hanya sekedar viral, ya hanya viral-viral aja. Viral itu kan belum tentu baik,” ujar Tombro.
APEKSI akan berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menyelaraskan inovasi digital di setiap daerah agar juga bisa digunakan oleh daerah lain.
Sistem rekomendasi konten TikTok atau kita kenal dengan FYP, dan praktik pengumpulan data yang invasif disebutkan menimbulkan bahaya bagi pengguna anak muda.
Membagikan isi chat WhatsApp kepada rekan kerja, alih-alih sebagai bahan obrolan, hal ini justru akan dengan cepat membongkar aib dan permasalahan kita sendiri.